Copyright 2019 - DISTANPHP KAB. PAMEKASAN Email : distanphp@gmail.com
  • Ramadhan

  • Kunjungan Menteri

  • Hari Santri

  • Adipura

Pada Hari Jumat tanggal 01 Maret 2019 bertempat di BPP Desa Sumedangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Pamekasan, Penyuluh Pertanian DISTANPHP yang diwakili oleh Bapak Syaiful Hidayat, A.Md beserta Komunitas Sanren menerima santri RA Nurul Hikmah Pamekasan dalam Kunjungan Realisasi Program Pembelajaran di luar kelas (alam sekitar) dengan tema “"PENGENALAN DINI  DUNIA PERTANIAN PADA ANAK TK (NURUL HIKMAH PAMEKASAN) DI DINAS TANAMAN PANGAN,HORTIKULTURA DAN PERKEBUNAN ". Kegiatan ini di ikuti oleh santri/santriwati Kelas A sejumlah 119 anak dan Kelas B sejumlah 156 anak.

Kunjungan Kerja Mentri Pertanian RI Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP. pada hari ini Selasa 19 Februari 2019 di Desa Kaduara Barat Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan. Tujuan kunjungan ini dalam rangka menghadiri Acara Temu Tani Milineal dan Kontes Ternak Sapi Madura.

Acara ini juga dihadiri Oleh Bupati Bangkalan Latif Imron, Bupati Sampang H. Slamet Junaidi, Bupati Pamekasan H. Baddrut Tamam serta Wakil Bupati Pamekasan, H. Raja’e dan juga Anggota komisi IV DPR-RI, Yus Sudarso, Perwakilan Disperta Propinsi Jawa Timur, Perwakilan Disnak Propinsi Jawa Timur, Kadisperta se Madura, Perwakilan petugas penyuluh pertanian dan Peternakan se Madura serta perwakilan Kelompok tani / ternak.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyalurkan bantuan dari Kementerian Pertanian senilai Rp 10 Miliar untuk para petani di Pulau Madura. Bantuan yang diberikan kepada petani sebesar Rp 10.159.295.00, meliputi Ditjen PKH bantuan berupa kambing 300 ekor Rp. 397,500,000, dan sapi Madura (hadiah kontes) 6 ekor Rp. 84.000.000. Ditjen PSP berupa traktor roda dua 10 unit Rp. 280.000.000, cultivator 10 unit Rp. 180.000.000, dan pompa air 10 unit Rp.250.000.000.

BPPSDMP Santri Milenial 20 Kub Rp. 523.000.000. Badan Ketahanan Pangan, berupa KRPL 65 Rp. 2.340.000.000, Opal 27 lumbung Rp. 1.620.000.000 Balitkabi berupa benih kacang hijau Var. Vima 300 kg, dan benih kacang tanah Var. Bison 300 kg.

Kemudian, Ditjen Tanaman Pangan berupa benih padi dan jagung. Benih padi di Bangkalan 1800 Ha, Pamekasan 530 Ha, Sampang 10 Ha, dan Sumenep 330 Ha. Total Padi Rp. 580.895.000.

Sementara benih jagung di Bangkalan 1500 Ha, Pamekasan 405 Ha, Sampang 10 Ha, dan Sumenep 4000 Ha. Total benih jagung Rp. 3.903.900.000 Ditjen perkebunan benih kelapa kopyor, di Pamekasan 300 batang, Bangkalan 300 batang Sumenep 400 batang dengan total bantuan 1.000 batang Rp. 44.500.000.

Ditjen Hortikultura berupa benih bawang merah 640 kg, benih cabai merah sachet 552 kg, bibit durian var. Otong 2.500 batang, bibit alpukat kendil 1.000 batang, bibit alpukat var. Hijau panjang 1.500 batang. Dan sarana pasca panen 2 unit serta bangsal pasca panen 2 unit.

Anggota komisi IV DPR-RI, Yus Sudarso, yang ikut hadir dalam acara ini, mengapresiasi hasil kinerja Kementan, kedepan beliau berharap agar petani Madura bisa ekspor. Menurutnya ada 5 hal yang dibutuhkan petani Madura untuk bisa meningkatkan produksi. Tersedianya sarana pengairan, alsintan modern, bibit unggul, bimbingan teknologi dan jaminan harga.

Bupati Pamekasan H. Baddrut Tamam mewakili Bupati se Madura dalam sambutanya menyampaikan banyak terima kasih atas bantuan pemerintah pusat. Menurutnya, hal ini bisa memakmurkan petani di Bumi Gerbang Salam dan Pulau Madura pada umumnya.

Berdasarkan Surat Kepala BKPSDM Kabupaten Pamekasan diumumkan bahwa Pemerintah Kabupaten Pamekasan akan melaksanakan Seleksi Penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap I Tahun Anggaran 2019 :

 

Adapun alur tata cara dan persyaratan pendaftaran sebagai berikut :

 

Untuk keterangan lebih lanjut dapat dilihat di https://bkd.pamekasankab.go.id atau https://ssp3k.bkn.go.id/

       

             

          Jakarta - Tiga Faktor Penentu Peningkatan Provitas Padi diperkirakan terpenuhi di tahun ini. Sehingga produktifitas padi di 2019 diprediksi meningkat.  Kepala Balai Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) Priatna Sasmita menjelaskan, ketiga hal itu meliputi faktor genetik, faktor lingkungan, serta interaksi faktor genetik dengan lingkungan.  Priatna menyampaikan upaya peningkatan produksi dari aspek genetik saat ini hampir sebagian besar telah dilakukan petani di Indonesia melalui penggunaan berbagai varietas unggul potensi hasil tinggi yang telah teruji di masing-masing sentra. "Serta dengan melakukan pengelolaan lingkungan melalui perbaikan berbagai teknologi budidaya dan adaptasi spesifik lokasi (menginteraksikan kedua faktor varietas dan lingkungan)," kata Priatna.

           Namun demikian masih ada faktor lingkungan lainnya yang sulit dikontrol manusia khususnya iklim. "Ini berkaitan dengan curah hujan, intensitas cahaya, temperature dan kelembaban yang sangat menentukan pertumbuhan tanaman terutama fase _generative_ yang dibutuhkan untuk akumulasi fotosintat optimal pada proses pengisian bulir gabah," katanya.

           Kondisi lingkungan ideal untuk fase pertumbuhan generative padi secara umum meliputi Intensitas (kualitas) cahaya tinggi, temperature relative tinggi, serta kelembaban dan curah hujan rendah yang biasanya terjadi mulai bulan Maret-April. Selain efek fisiologis yang kondusif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, kondisi di atas secara tidak langsung juga dapat mengurangi perkembangan populasi hama dan penyakit tanaman di lapang. "Oleh karena itu prediksi pergeseran waktu tanam padi periode Oktober 2018 -Maret 2019 ke Januari 2019 cukup beralasan berimplikasi kondusif terhadap peningkatan produktivitas tanaman padi secara signifikan. 

            Apa yang disampaikan Priatna sejalan dengan perkiraan Ahli Padi Indonesia Dr. Ir. H. Soemitro, bahwa produksi padi pada April 2018 diperkirakan akan meningkat drastis. Kenaikan diprediksi mencapai 30 juta ton (GKG) senilai Rp 150 triliun.  Soemitro menjelaskan, prediksi ini didasarkan pada Elnino 2018 yang merupakan kategori kuat. Ini identik dengan Elnino yang terjadi di tahun 2015. "Produksi padi tahun 2016 terjadi peningkatan karena Elnino tahun 2015. Hal ini membuat terjadinya pergeseran tanam dari Oktober 2015 – Maret 2016 menjadi Januari - April 2016," kata Soemitro dalam diskusi rutin bersama Penggiat Petani Milenial, Jakarta, Rabu (9/01/2019). 

            Dengan pergeseran masa menjadi Januari - April, petani akan memanfaatkan tujuh keajaiban solar energi yang memicu produksi perhektar mengalami kenaikan tiga kali lipat. Ketujuh keajaiban solar energi itu di antaranya tanaman yang bebas hama; proses penyerbu kan sempurna sehingga bagai berisi; proses asimilasi fotosintesis yang sukses sehingga mencegah munculnya parasit; terjadi efesiensi pemupukan yang meningkat empat kali lipat; saat matahari bersinar menyebabkan proses pengeringan gabah menjadi, cepat, mudah dan murah dan tidak ada gabah yang busuk; dan kualitas gabah yang dihasilkan adalah kualitas premium, sehingga harga jual di sawah di atas HPP. Soemitro memperkirakan luas lahan yang akan mengalami perubahan produksi menyusul pergeseran waktu tanam seluas 5 juta hektar dari 8.5 juta hektar.  "Kenaikannya saja 30 juta ton (GKG), atau setara Rp 150 triliun. Inilah bentuk pergeseran dari green revolution menjadi Gold revolution," tutup optimistis. ( Sumber : http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3553)